HAKIKAT BIMBINGAN KONSELING

Bimbingan dan konseling berasal dari dua kata yaitu bimbingan dan konseling. Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung beberapa makna. Sertzer & Stone (1966:3) menemukakan bahwa guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer (menunjukkan, menentukan, mengatur, atau mengemudikan). Sesuai dengan istilahnya, maka bimbingan dan konseling dapat diartikan secara umum sebagai suatu bantuan. Namun untuk pengertian sebenarnya, tidak setiap bantuan adalah bimbingan.

Sedangkan konseling menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

Prinsip – prinsip bimbingan konseling yang akan dibahas adalah prinsip – prinsip umum yaitu :

  1. Karena bimbingan itu berhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlulah diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet. Sikap dan tingkah laku individu bersumber dari aspek yang sangat unik, maka perlu ditanamkan pada diri konselor bahwa setiap individu itu berbeda. Seorang konselor tidak boleh menyamakan sikap dan tingkah laku semua kliennya meskipun mungkin statusnya sama. Misalnya sama – sama peserta didik, sama – sama laki – laki, sama masalah yang dihadapi, dan lain sebagainya.
  2. Perlu dikenal dan dipahami perbedaan individual daripada individu – individu yang dibimbing, ialah untuk memberikan bimbingan tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh individu yang bersangkutan. Seorang konselor harus benar – benar kenal dan paham karakter dari kliennya. Jangan sampai seorang konselor memberikan bimbingan yang tidak tepat pada seorang klien karena manusia itu unik. Berbeda setiap individu, berbeda cara berfikir, dan juga berbeda dalam menghadapi suatu masalah. Perlu pengenalan yang lebih dalam sebelum seorang konselor memberikan bimbingan kepada kliennya.
  3. Bimbingan yang berpusat pada individu yang dibimbing. Konselor hendaknya memberikan bimbingan terpusat terhadap kliennya. Hal ini dimaksudkan agar konselor tidak membanding-bandingkan antara masalah klien satu dengan klien yang lain. Kemungkinan klien- klien itu memang memiliki kesamaan masalah. Namun setiap klien memiliki karakter yang berbeda. Maka dari itu hendaknya konselor memperhatikan kliennya secara utuh.
  4. Masalah yang tidak dapat diselesaikan di sekolah harus diserahkan kepada individu atau lembaga yang mampu dan berwenang melakukannya. Dalam bimbingan kemungkinan konselor tidak  mampu menghadapi masalah. Sebagai konselor yang baik hendaknya ia tidak tinggal diam. Namun konselor harus mencarikan alternatif jalan atas masalah yang sedang dihadapi klien. Entah itu mengembalikan masalah ke klien setelah diberikan beberapa bimbingan dan pengarahan, atau mungkin meminta bantuan pihak lain untuk membantu. Sebagai contoh jika guru BK di sekolah tidak mampu menghadapi masalah siswa. Hendaknya guru tersebut bersedia menghubungi orang tua siswa kemudian berdiskusi bersama untuk mencari jalan keluar yang baik.
  5. Bimbingan harus dimulai dengan identifikasi kebutuhan – kebutuhan yang dirasakan oleh individu yang dibimbing. Bimbingan kepada klien tidak bisa asal diberikan. Sebelum bimbingan dilakukan hendaknya konselor mengidentifikasi kondisi kebutuhan yang diperlukan klien. Kebutuhan yang dimaksud tidak hanya kebutuhan lahiriah tapi juga kebutuhan rohaniah. Seperti halnya mengetahui background dan  keadaan psikis klien.
  6. Bimbingan harus fleksibel sesuai dengan program pendidikan sekolah yang bersangkutan. Bimbingan yang diberikan konselor kepada klien hendaknya disesuaikan dengan program sekolah yang bersangkutan sehingga tidak terjadi tumpangtindih antar keduanya.
  7. Pelaksanaan program bimbingan harus dipimpin oleh seorang petugas yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan sanggup bekerjasama dengan para pembantunya serta dapat dan bersedia mempergunakan sumber – sumber yang berguna diluar sekolah.
  8. Untuk di sekolah biasanya bimbingan diberikan oleh seorang ahli bernama guru Bimbingan konseling. Namun tidak mustahil jika dalam praktikknya guru Bimbingan Konseling bekerjasama dengan wali kelas dan orangtua.
  9. Terhadap program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian yang teratur untuk mengetahui sampai dimana hasil dan manfaat yang diperoleh serta penyesuaian antara pelaksanaan dan rencana yang dirumuskan terdahulu

Sumber:

Mugiarso, Heru. Bimbingan dan Konseling. 2007. Semarang: UPT MKK Universitas Negeri Semarang.

Marjohan, Erman Amti. Bimbingan dan Konseling. 1991. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: